TKI Mendirikan Sekolah Unggulan di Makkah

Pada tulisan sebelumnya, saya menulis tengtang’’ Sisi Lain TKI di Arab Saudi’’. Walaupun TKI di Arab Saudi memperburuk wajah bangsa Indonesia, tetapi tidak semua demikian. Khusus di Makkah, ternyata para TKI memiliki sekolah Indonesia Makkah. Sekolah itulah yang kelak akan mempercantik dan memperindah wajah Indonesia di mata dunia. Marzuki Ali dan anggota legislative lainnya perlu berkunjung juga kesana. Beberapa pejabat pernah kesana. Dari pada keliling ke-luar Negeri dengan dalih study banding, apa salahnya belajar kepada para TKI di Makkah ketika memperjuangkan Sekolah Indonesia. Saat ini jumlah siswa, TK, SD, SMP, SMA, kurang lebih 580 siswa.

Pada tahun 2000, hari bersejarah bagi TKI yang tinggal di Arab Saudi (Makkah). Pada tahun ini, warga Indonesia yang terdiri dari TKI, Pelajar, Mahasiswa, Santri, ramai-ramai berjuang mendirikan sekolah Indonesia Makkah. Berdirinya sekolah ini tidak lepas dari Gus Dur sang Pendidiri PKB, sekaligus presiden RI. Sudah puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, warga Indonesia yang tinggal di Makkah tidak bisa menikmati pendidikan formal (Formal Education). Sebagian besar dari mereka belajar kepada para ulama’-ulama’, dan ahirnya menjadi ulama’ yang ahli dibidanganya. Seperti; Syeh Yasin al-Fadani (Padang), Syeh Abd Fatah Rowah (Aceh), Syeh Mahfud al-Turmusi (Termas-Pacitan), Syeh Abdul Karim al-Banjari, Syeh Abdul Kadir Mandailing, Syeh Nawawi al-Bantani.

Masih banyak ulama’ asal Indonesia yang besar di Makkah hingga sekarang ini. Sebagian dari mereka sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Memasuki tahun 1979, Indonesia mulai mengirimkan tenaga kerja wanita ke Indonesia. Jadi, penduduk asal Indonesia yang tinggal di Arab Saudi (Makkah) sejak saat itu terdiri dari keturunan dan TKI. Selanjutnya, bukan hanya TKW, beberapa mahasiswa, santri, juga menjadi bagian dari warga Indonesia. Said Aqil Munawar, Said Aqil Siradj, Muslim Nasution, termasuk jebolan Umm al-Qura University Makkah.

Karena pesatnya pertumbuhan penduduk asal Indonesia baik dari TKI dan keturunan. Mereka-pun berusaha agar mendapatkan pendidikan formal, sebagaimana warga Indonesia lainnya. Akan tetapi, karena sebagian dari mereka berposisi sebagai TKI, maka sulit sekali untuk mendapatkan pendidikan formal. Sebagai warga Indonesia, mereka:

1- Kesulitan memasukan anak ke sekolah Saudi akibat peraturan yang sangat ketat.-

2- Keadaan ekonomi mereka tidak memungkinkan untuk memasukkan anak ke sekolah swasta atau sekolah Internasional karena biayanya sangat mahal.

3- Jauh dari Sekolah Indonesia yang berlokasi di Jeddah tetap ingin belajar sekolah formal, tetapi mereka kesulitan.

Ketika saya masih menjadi mahasiswa, saya aktif di dalam mengikuti detik-detik berdirinya sekolah Indonesia Makkah. Ada beberapa tokoh sentral, seperti; Ir Fuad Abd. Wahab, Baharudin Lopa (Dubes RI), gigih di dalam mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia bisa sekolah formal. Kegigikan itu berangkat dari sebagian anggapan orang-orang KJRI-Jeddah, bawa sekolah Indonesia tidak akan mungkin bisa berdiri. Anggapan itulah yang ahirnya menjadi pelecut. Kalangan santri, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia yang mayoritas TKI bersatu padu dengan tekad yang bulat, ikut serta mendukung berdirinya sekolah Indonesia itu.

Berawal dari lahirnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membuat sebagian besar warga NU yang tinggal di Makkah berkumpul dalam bingkai politik PKB. Gus Dur waktu itu menjadi sumber inpirasi perubahan warga Indonesia memiliki sekolah Indonesia sendiri. Pertemuan demi pertemuan terus dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut. Konjen RI, tokoh-tokoh masyarakat, calon wali murid (TKI), santri, mahasiswa, terus dilakukan secara itensif dan kontinyu.

Pada tanggal 11 juni, 2000, Duta Besar RI Prof. Dr. Baharuddin Lopa, SH di Wisma Haji Makkah, yang dihadiri oleh sekitar 150 warga Indonesia yang umumnya mereka itu calon orang tua murid. Duta Besar menyampaikan dukungannya yang besar terhadap hasrat masyarakat Makkah sebagai gambaran dari tanggun jawab yang besar terhadap pendidikan anaknya, untuk masa depan mereka, juga menyampaikan harapannya agar keinginannya ini tidak merupakan keinginan selintas, karena akan cukup besar dampaknya pada kelangsunga pendidikan, dan agar tidak terlalu mengandalkan pada sumbangan dari luar. Baharudi Lopa juga memberikan dukungan, 5000 SR untuk kelangsungan Sekolah Indonesia.

Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi yang kebetulan sedang dalam perjalanan umrah, yang menyampaikan sambutannya dengan memberikan dukungannya terhadap pendirian sekolah Indonesia untuk anak-anak Indonesia di Makkah dan langsung memberikan sumbangan uang sebesar US $ 5.000,00 Pada bagian akhir ini dilakukan dialog dengan Duta Besar dan Ketua Umum PBNU, yang dipandu oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan.

Secara umum TKW itu memang tidak ada yang pinter, kalau pinter-pinter pasti sudah mendaftarakan diri menjadi wali kota, bupati, atau caleg. Seandainya mereka kaya banyak duitnya, pasti mereka juga tidak mau menjadi TKI. Pernyataan Marzuki Ali’’ PRT TKW itu membuat citra Indonesia buruk,” kata Marzuki itu memang benar. Yang paling buruk ialah, pemerintah yang terus-menerus memberikan izin kepada PJTKI. Sudah waktunya, pemerintah secara menyeluruh meng-evaluasi penggiriman tenaga kerja. Dan, menindak tegas PJTKI serta calo-calonya. Walaupun TKI dimata sebagian orang merusak citra bangsa Indonesia, kali ini TKI Makkah akan memperindah wajah Indonesia di Makkah melaui Sekolah Indonesia Makkah.

 

SUMBER

One response to this post.

  1. Posted by Ify Afiat Soeleaman, MR. on March 4, 2011 at 3:15 am

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Saya minta bantuannya untuk dapat nomor kontak dengan pihak Sekolah TKI ini: Email, atau no telp.

    Terima kasih.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: