Batik Di Pekan Mode Paris

Metrogaya– Perancang busana internasional pun menggunakan batik untuk koleksi musim semi dan panas 2010,dalam pekan mode di Paris.Di tangan perancang Dreis van Noten yang kecenderungannya menggunakan elemen etnis mangambil batik Jawa bermotif lereng,parang, dan batik pesisir bermotif bunga.

Seperti dilaporkan New York Times on line dan International Herald Tribune, inspirasi Van Noten adalah Paris, Tokyo, dan Calcutta. Paris memberi keanggunan dan hidup nyaman, Tokyo adalah paduan antara tradisi dan modernitas, dan Calcutta memberikan energi dan keriangan.

Van Notten memadukan motif batik dengan ikat yang tak kalah meriah. Atasan bermotif batik pesisir dalam warna coklat dengan bunga dia padu dengan rok bergaya sarung motif ikat warna ungu, lengkap dengan selendang lebar di pinggang, mengingatkan pada gaya busana tradisional perempuan Bali.

Yang lain, batik motif parang barong warna broken white dijadikan blus kemeja dipadu rok span ungu bermotif ikat. Batik dengan motif sama dijadikan rok span. Ikat juga menjadi materi utama Van Noten lainnya, baik sebagai jaket pendek dan panjang, celana panjang, gaun, dan rok.

Digunakannya motif batik, ikat, dan lurik dalam koleksi Van Noten kali ini bukan tak mungkin karena pengaruh salah satu asistennya yang orang Indonesia, Heaven. Sebelum melanjutkan pendidikan modenya di Belgia, Heaven sempat bekerja di tempat Biyan Wanaatmadja.

Di tangan Van Noten, kain mendapat pengolahan dengan selera yang dapat diterima publik internasional. Tabrak motif dan warna tetap menghasilkan paduan harmonis, sementara untuk yang ingin aman motif batik atau ikat dipadu dengan kain polos dalam siluet sederhana.

Tentu saja Van Noten bukan perancang internasional pertama yang pernah memakai batik. Sebelumnya Paul Smith berulang kali meminjam corak batik, begitu pula Chloe memakai motif mega mendung batik Cirebon, juga Armani.

Sayangnya, di dunia mode internasional tidak banyak yang menyadari batik Jawa sangat kaya ragam hias dan motif serta makna filosofis. Kebanyakan menganggap batik hanya corak kain dan tidak terlalu peduli apakah dibuat memakai malam atau di-print. Setelah UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia, kerja bersama berikut adalah mempromosikan batik Indonesia.
(ayoc/kompas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: