Mudahnya Joki Cilik Sapi Karapan Meraup Uang

Fauzi, joki cilik sapi karapan saat memacu sapinya pada seleksi kejuaraan Piala Presiden di Pamekasan, Ahad (22/9/2013).

Fauzi, joki cilik sapi karapan saat memacu sapinya pada seleksi kejuaraan Piala Presiden di Pamekasan, Ahad (22/9/2013).

Karapan sapi atau balap sapi di Madura merupakan tradisi turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Dua pasang sapi dipacu seorang joki yang sudah ahli.

Untuk memacu sapi, seorang joki tidak hanya harus memiliki kemampuan karapan, tetapi juga harus mempunyai nyali tinggi terombang-ambing di atas pacuan. Oleh karena itu, menjadi seorang joki tentulah tidak mudah.

Di Pamekasan, joki sapi yang paling disukai oleh pemilik sapi karapan atau “pangerap” adalah joki cilik yang lincah dan berani. Joki cilik atau anak laki-laki berusia 10 sampai 15 tahun selalu jadi incaran para pangerap. Sebab, selain ringan dibawa lari sapi, joki cilik juga mudah diatur oleh pangerap. Karena menjadi favorit pangerap, tentulah joki cilik dengan mudah digaet pangerap dengan bayaran yang tidak murah, apalagi kejuaraan yang diikuti setingkat Piala Presiden.

Di tingkat seleksi kecamatan saja, joki cilik bisa meraup uang sampai jutaan rupiah. Fauzi (12), misalnya, joki cilik asal Kecamatan Proppo, mengaku setiap kali menjadi joki sapi karapan dibayar Rp 50.000. Setiap kali kompetisi, tidak hanya satu pangerap yang memanfaatkan jasanya. Terkadang ada tiga sampai empat pangerap yang memintanya untuk menjadi joki sapi karapan.

“Kalau seleksi tingkat kecamatan, sehari saya bisa mendapat Rp 700.000,” kata bocah berkulit legam ini, Minggu (22/9/2013).

Bahkan, setahun yang lalu, ia diberi hadiah motor Honda Beat oleh pangerap karena sapi yang ditungganginya menjadi juara 1 Piala Presiden. Hadiah itu diterimanya, setelah bocah bertubuh kurus ini menjadi joki sejak seleksi tingkat kecamatan, tingkat kabupaten sampai kejuaraan Piala Presiden.

Untuk menjadi seorang joki sapi karapan, Fauzi awalnya hanya coba-coba karena melihat teman-teman lainnya mudah menunggangi sapi karapan. Dari coba-coba itu, ia kemudian mendapat dukungan dari orangtuanya, akhirnya niatnya semakin kuat dan nekat demi kesenangan.

“Awalnya, jadi joki tidak langsung pada sapi yang besar, namun untuk sapi yang kecil-kecil dulu dan larinya tidak begitu kencang. Lama-kelamaan akhirnya berani juga jadi joki sapi yang besar,” katanya.

Selama menjadi joki, Fauzi pernah mengalami jatuh dari atas pacuan sapi karapan. Bahkan, lengannya sempat mengalami bengkak dan tidak bisa beraktivitas selama sebulan. Ke sekolah pun Fauzi harus diantar orangtuanya. Namun, pengalaman itu dijadikannya sebagai pelajaran agar tidak jatuh lagi.

“Sudah tiga tahun saya tidak pernah jatuh dari atas pacuan sapi karapan,” ungkapnya.

Fauzi sendiri jika dewasa kelak mempunyai cita-cita memiliki sapi karapan yang andal hingga bisa menjuarai Piala Presiden. Namun, cita-cita itu sepertinya sulit untuk terwujud. Untuk membeli bibit sapi karapan saja, harganya mencapai puluhan, bahkan ratusan juta.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: